Cerpen dan Analisanya

Cerpen ini sebenarnya dibuat waktu saya masih di kelas XII SMA (kalau gak salah), untuk memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, di bawah bimbingan Pak Setijadi, guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 34 Jakarta. Saya share aja deh, mudah-mudahan bisa memberi inspirasi bagi para pembaca. Mohon kritik dan sarannya ya.🙂

Mengejar Bayangan

“Bang Ipul! Bang, Bang Ipul, jangan pergi Bang!” tiba-tiba aku terbangun dari mimpi buruku, “Ya ampun, ternyata cuma ngimpi. Rasanya kayak beneran ajah. Ah, tapi Bang Ipul mana mungkin ninggalin Ina, dia kan cinta mati sama Ina”, pikirku.

Aku terbangun dari mimpi buruku, mimpi ditinggal Bang Ipul tecinta. Pagi ini rasanya suram, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Sebangun dari tidurku aku sudah harus  menjalankan rutinitasku setiap hari untuk mengais rezeki di gundukan sampah depan rumahku di Bantar Gebang. Ya, aku memang orang yang kurang beruntung, bukan, tapi sangat tidak beruntung. Aku tidak punya rumah yang bisa kubanggakan seperti rumah orang lain. Jangankan rumah, bisa makan makanan yang tidak basi satu kali sehari saja sudah syukur. Uang hasil mengumpulkan sampah-sampah plastik tidaklah cukup untuk membiayai kehidupanku sehari-hari. Satu kilo sampah yang berhasil kukumpul, dinilai dengan uang Rp 200,-. Dalam satu hari aku hanya mampu mengumpulkan sampah seberat lima kilo, itu berarti aku hanya mendapat upah Rp 1000,- dalam sehari. Itu pun harus kubagi dua dengan Bag Ipul karena ia tidak bekerja alias pengagguran. Bang Ipul adalah kekasihku dan sudah tiga bulan aku menjalin hubungan dengan dia. Aku sangat mencintai Bang Ipul dan aku rela melakukan apa saja untuknya. Sejak kecil, aku memang sudah ditinggal mati oleh kedua orangtuaku. Karena itu, aku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan, apapun bentuknya. Hingga suatu hari aku bertemu Bang Ipul di halte, dan kupikir Bang Ipul adalah kebahagiaan yang selama ini aku cari-cari.

Pagi berikutnya pun aku terbangun dengan beban berat yang menanti untuk kupikul. Ketika aku beranjak dari lantai untuk ke kamar mandi, tiba-tiba aku terhuyung dan aku terjatuh. “Uek…uhuk-uhuk…Uek..”, tiba-tiba aku merasa mual dan ingin muntah-muntah. “aduh, kok pala ina pusing benar ya? Masa Ina sakit sih, kalo Ina sakit siapa yang nyari duit”. Dengan kepala berat kuteruskan langkahku untuk menerjang arus kehidupan ibukota. Di perjalanan tiba-tiba aku merasa mual lagi hingga akhirnya aku tidak kuat dan terjatuh tepat di depan Puskesmas kampung sebelah. Lalu, orang di sekitarku membawa aku masuk ke dalam Puskesmas. “ nggak mau, aku nggak mau ke sana! Aku nggak punya duit” aku teriak sambil memberontak. “yo wes… tenang aja Mbak, rak sah mikir duite, nanti tak bayarin. Seng penting  Mbak e diperiksa dise”, kata salah seorang yang membantuku ke dalam Puskesmas.

Setelah tiga puluh menit aku diperiksa, dokter yang memeriksaku memintaku untuk tenang dan menyuruhku untuk mendengarkan penjelasannya dengan seksama dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukannya. “Ada apa Bu dokter? Apa Ina masuk angin?” tanyaku. “Bukan, Dek Ina tidak masuk angin, bahkan Dek Ina malah sebenarnya tidak sakit” bantah dokter. “terus, Ina kenapa, Dok?” tanyaku makin penasaran. Lalu dengan sangat hati-hati dokter itu memberitahukan bahwa sebenarnya aku tengah mengandung seorang anak yang sudah berusia dua bulan. Aku kaget dan bingung setengah mati. “Bagaimana bisa? Ina kan belum menikah, Bu. Kan kalau mau punya anak itu harus nikah dulu”, tanya ku tidak percaya. “Dek Ina, orang itu bisa punya anak kalau ada peleburan antara sel sperma dan sel ovum, atau dengan kata lain jika seorang laki-laki dengan seorang perempuan melakukan hubungan intim. Aduh Adek ini bagaimana sih. Apa orangtua Adek tahu mengenai hubungan Adek dengan pacar Adek? Adek ini baru berumur 12 tahun, sangat berbahaya kalau anak seumuran Adek ini sudah hamil.” Tanya dokter itu dengan nada yang tinggi seakan-akan memarahiku. “orangtua Ina udah mati, Bu dari Ina kecil” jawabku.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan memberitahu Bang Ipul tentang keadaanku. Dengan mengadukannya kepada Bang Ipul, kurasa ketakutanku akan berkurang, karena ini masalah kami berdua. Akan lahir satu lagi kebahagiaan yang kurasa inilah memang kebahagiaan yang selama ini aku cari-cari. Sesampainya di rumah, langsung saja kuceritakan pada Bang Ipul semua hal yang terjadi hari ini. Lantas saja Bang Ipul lansgung berubah jadi aneh. Wajahnya pucat, mulutnya kaku dan ekspresinya tidak biasa. “kenapa Bang? Ada yang salah?” tanyaku. “Ah, enggak. Enggak apa-apa. Udah, mendingan Ina isirahat aja dulu, biar badan Ina cepat pulih.” Kata Bang Ipul. Memang benar, badanku rasanya sangat lelah dan akhirnya kuputuskan saja untuk menuruti saran Bang Ipul. Aku pun tertidur setelah memakan sepotong roti tadi malam yang sengaja kusisihkan untuk kumakan hari ini dan meminum obat yang kudapat dari seorang dermawan di Puskesmas tadi.

Keesokan harinya aku terbangun dan kepalaku sudah baikan rasanya. Setelah beraktifitas mengais rejeki di tumpukan sampah, akupun bergegas menghampiri rumah Bang Ipul yang tidak jauh dari rumahku untuk membagi hasil kerjaku hari ini. Namun, sesampainya di sana rumah Bang Ipul nampak sepi dan pintunya pun tertutup rapat. “Nyari siapa? Ipul ya, Na? Ipulnya udah pergi dari gelap tadi.” Kata salah sorang tetangga Bang Ipul. “Pergi? Pergi ke mana ya, Bu?” tanyaku bingung. “Dia enggak bilang mau pergi ke mana, tapi semua barang-barangnya dibawa. Mungkin mau pulang kampung.” Jelasnya. “Pulang kampung? Tumben benar Bang Ipul pergi jauh tapi enggak bilang-bilang Ina.” Pikirku.

Sembilan bulan telah berlalu, kandungan di perutku pun makin membesar dan tinggal menunggu hari untuk kelahiran anak pertamaku ini. Namun, sampai saat ini, aku tidak pernah sedikit pun mendengar kabar mengenai Bang Ipul. Uang untuk persalinan telah aku siapkan sesuai dengan anjuran dokter di Puskesmas tempo hari. Untungnya aku mendapat kebaikan dari dokter yang menanganiku untuk persalinan ini, aku hanya cukup membayar uang bersalin. Popok, susu, baju dan perlengkapan lain aku dapatkan dari dokter yang baik itu. Yah, memang tidak baru, tapi masih bisa kugunakan.

Tibalah hari dimana aku melahirkan si jabang bayi yang dapat membangkitkan ingatanku akan bayangan Bang Ipul, satu-satunya sumber kebahagiaanku yang kini entah ada di mana. Namun, anak yang lahir ini nantinya toh akan menjadi suber kebahagiaanku yang lain, menggantikan Bang Ipul. Untunglah aku selamat melalui proses persalinan, mekipun sempat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Yah maklum saja, kata dokter kehamilan di usia muda sepertiku ini memang berbahaya, dan sekali lagi aku bersyukur dapat melaluinya dengan selamat. Namun, betapa kagetnya aku ketika aku tahu bahwa anak yang baru saja kulahirkan, tidak lahir sempurna alias cacat. Bentukya jelek. Sama sekali tidak mirip dengan bayanganku. Kaki dan tangannya  meliuk. Aku sendiri jijik untuk melihat dan menyentuhnya. Matanya miring, bahkan aku tidak tahu kalau itu adalah mata. Wah, pokoknya benar-benar menjijikan. Rasanya ingin kubuang saja anak ini. Namun, niatku itu kuurungkan karena aku merasa tidak enak dengan dokter yang sudah susah payah membantuku untuk melahirkan “makhluk” jelek ini.

Sudah dua bulan aku menjalani hidup dengan anakku. Bukannya mendapat kebahagiaan, malah kesengsaraan yang terus kudapat. Sudah bentuknya jelek, tangisannya berisik, pengeluarannya juga besar lagi. Belum lagi, gunjingan para tetangga terus menghujaniku tiada henti. Duh, kemana sih Bang Ipul! Lalu kudengar kabar dari tetangga Bang Ipul yang tempo hari bebicara padaku, katanya Bang Ipul telah menikah dengan seorang gadis di kampungnya sebulan yang lalu. Aku makin shock saja mendengar berita seperti itu. Rasanya aku mau mati saja!

“oek…oek…”tangisan anakku melengking karena kelaparan. “Hey, diam dong! Berisik banget sih! Diam atau mau kugampar kamu!” entah mengapa bayi tak berdosa itu justru malah kumarahi, kujadikan sebagai pelampiasan emosi. Aku baru sadar, sejatinya aku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sekecil apapun, sejak bayi pun aku tidak tahu rasanya dikasihi oleh orang, termasuk orang tuaku sendiri. Rasa bahagia yang kuterima dari Bang Ipul pun ternyata hanyalah kebahagiaan semu yang justru malah menambah investasi kesengsaraanku di masa depan. “Tuhan! Apa salah Ina? Tega benar Kau pada Ina! Mana Bang Ipul, Tuhan?! Mana diri-Mu Tuhan?! Apa Kau menghliang, kabur seperti Bang Ipul?! Atau Kau tak pernah ada? Mengapa Ina tidak pernah medapatkan kebahagiaan, Tuhan? Di mana harus kucari kebahagiaan itu Tuhan?” tiba-tiba saja aku marah kepada Tuhan, mungkin ini pertama kalinya aku menuangkan isi hatiku kepada Sang Pencipta. Buatku sangat sulit untuk mendapatkan satu kata itu, satu kata yang selama ini, selama duabelas tahun aku kejar dan kucari-cari. Yah, “kebahagiaan”, bagiku kebahagiaan bagaikan sebuah bayangan, yang jika kukejar ia lari dan ketika aku diam, diapun diam tak menghampiri.

Analisa Cerpen

  1. Unsur intrinsik
  • Tema               : sosial
  • Penokohan      : Ina, seorang remaja yang miskin dan tidak memiliki orang tua sejak kecil, sehingga dia tidak pernah mendapat kasih sayang dan pendidikan yang layak dari kedua orang tuanya.
  • Alur                 : maju
  • Latar                : TPA Bantar Gebang, Puskesmas, Rumah Ina, Rumah Bang Ipul
  • Sudut pandang: sudut pandang orang pertama
  • Amanat           : pendidikan dalam suatu keluarga sangat penting karena dengan pendidikan tersebut seseorang diajarkan untuk berperilaku yang baik  serta dapat menjaga diri dalam lingkungannya. dengan pendidikan, seseorang juga dapat dibiasakan untuk menangani masalah dengan bijak, serta berhati-hati dalam mengambil keputusan terutama di kalangan remaja.

2.   Unsur ekstrinsik

  • Nilai moral      : sebagai remaja seharusnya dapat menjaga diri dengan tidak melakukan
  •   hubungan seks di luar nikah
  • Nilai agama    : berserah diri kepada Tuhan, serta mengadukan perasaan kepada Tuhan

One thought on “Cerpen dan Analisanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s